Wednesday, November 12, 2008

Ramadan dan Momentum Keberpihakan

Oleh Y. Wibowo
Bergiat di Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL)

"Jikalau Anda ingin dekat dengan Tuhan,

maka dekatilah rakyat!" (Khalil Gibran).

Ahli hikmah termasyhur, Khalil Gibran, yang memuisikannya menjadi puitis dalam ungkapannya sebagai pembuka tulisan ini memandang pengabdian kita kepada Tuhan juga adalah pengabdian kepada sesama umat manusia. Puasa di bulan Ramadan kali ini hadir saat kondisi sosial politik yang belum kondusif dalam tatanan berdemokrasi hingga melontarkan nasib kehidupan manusia ke dalam jurang kehancuran. Penderitaan di mana-mana, situasi ekonomi yang tiba-tiba kembali ambruk, nilai tukar rupiah terpuruk, ancaman penyakit flu burung, kenaikan BBM yang juga dapat diikuti dengan kenaikan harga-harga bahan pokok lainnya, laiknya sebuah rentetan situasi yang samar diterjemahkan.

Guliran roda sistem yang tak dinamis telah menggoyahkan loyalitas manusia pada kaidah moralitas dan agama. Bahkan yang sudah buta pada jalan kebenaran tidak sanggup mencari solusi sehat atas persoalan yang menumpuk; bom sebagai pernyataan membabi buta, meledak lagi di Bali. Dan 60 persen lebih penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Di antaranya ada pada kemiskinan absolut, yang tidak lagi sanggup memenuhi kebutuhan pangan dan sandang. Ungkapan puitis Gibran menjadi relevan dalam makna yang tersirat dalam anjuran agar kita bersedekah, banyak-banyak beramal untuk kebaikan sesama manusia.

Sungguh suatu momentum istimewa sekiranya kita mampu menghadirkan makna baru puasa di tengah jumlah rakyat miskin yang kabarnya terus meningkat drastis dari tahun ke tahun? Bagaimana puasa kita dapat menumbuhkan semangat dan solidaritas kemanusiaan untuk memihak dan membela rakyat miskin, yang lemah dan tertindas akibat sistem kekuasaan yang tidak memihak rakyat, apalagi untuk berposisi bersama-sama rakyat miskin.

Tapi, mengapa musti rakyat?

Karena dalam masyarakat (apalagi yang tirani), kemiskinan lebih banyak disebabkan karena faktor sistem (negara) yang kurang adil, dan itu umumnya diderita oleh mereka yang kurang memiliki "daya tawar" (bargaining) pada saat berhadapan dengan penguasa.

Dan sesuai dengan makna generiknya, puasa berarti menahan diri dari nafsu makan, minum, dan nafsu seks. Berpuasa dari makan dan minum sebulan suntuk, misalnya, betapa menyadarkan kita akan rasa lapar dan dahaga, yang justru dari hari ke hari dialami rakyat miskin.

Di antara kita yang kaya dan biasa makan serbaenak, serbaberkecukupan segala fasilitas material-teknisnya, dilatih sebulan penuh untuk menjalani hidup rakyat miskin yang serbatak enak, tak nyaman, serbakekurangan dan serbakelaparan. Dengan berpuasa, harapannya kita makin peka terhadap derita rakyat miskin; yang kemudian melahirkan sikap empatik dan simpatik pada penderitaannya.

Berpuasa, dengan diperumpamakan sebagai The Have; sementara rakyat miskin ibarat The Needy, ada kewajiban intrinsik yang bersifat moral-etis antara si kaya pada kaum papa tak berpunya. Lalu, puasa dengan demikian akan mendekatkan titik sentuh dan menyadarkan sekaligus menumbuhkan semangat akan kewajiban moral-etik-kemanusiaan kita pada rakyat miskin.

Dalam rangkaian ibadah puasa di bulan Ramadan, salat--lebih-lebih salat tarawih, menjadi ritual keagamaan yang amat menonjol. Sebenarnya yang tampak ekspresif dari ibadah puasa justru salat tarawihnya. Dan kita tahu, salat menjadi medium spiritual muslim untuk lebih mendekatkan diri ke hadirat Allah. Namun, mendekatkan diri ke hadirat-Nya, kata Rasulullah, memiliki sejumlah prasyarat, satu di antaranya adalah bersikap dermawan.

Make sense, bersikap dermawan berarti proaktif mendarmabaktikan harta dan kekayaan untuk rakyat miskin yang lemah (duafa), dan diperlemah kondisinya (mustadafin). Penggunaan Alquran dengan terma "diperlemah kondisinya", sebenarnya merujuk kepada kelompok rakyat miskin yang lemah, marginal, dan tertindas. Term ini menjadi begitu penting karena kelemahan yang melekat pada rakyat miskin ini menurut perspektif Alquran disebabkan terutama bukan oleh faktor alamiah yang melekat pada diri mereka (by nature, by accident), tetapi oleh faktor-faktor lain yang justru ada di luarnya (by design), yang dalam term sosiologis disebut sebagai faktor "struktural". Dan dalam term politik lebih diakibatkan oleh sistem kekuasaan yang otoriter-birokratik-rente, represif, tiran, dan yang tak pernah memihak, apalagi menguntungkan rakyat miskin.

Dalam konsteks inilah, puasa dan salat yang benar adalah yang mampu menumbuhkan semangat dan solidaritas kemanusiaan secara universal, seperti menyantuni fakir miskin, duafa, yang lemah, yang serbakelaparan dan hidupnya compang-camping dengan setumpuk beban penderitaan yang selama ini membelit mereka.

Pesan moral-kemanusiaan dari rangkaian ibadah puasa sungguh mengandung spirit solidaritas, mulai dari salat, tarawih, infak, zakat, sampai sedekah, sebenarnya hendak melatih diri kita untuk to be sensitive to the reality. Yakni, menjadi lebih peka dan sensitif terhadap realitas sosial di sekitar kita. Kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan yang selama ini diderita rakyat lemah, dengan demikian memperoleh rujukan dan legitimasi dari ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Ibadah puasa, menjadi momentum istimewa untuk melakukan keberpihakan lebih kepada rakyat miskin dan lemah.

Lantas, jika belakangan ini kita masih menyaksikan kemiskinan dan penderitaan di mana-mana, ada baiknya kita introspeksi diri, mawas diri, sekaligus berbenah diri, meskipun mungkin telah terlalu lama kita abai, sehingga terkesan menjadi klise ungkapan puisi di atas. Sudahkah kita selama ini berpuasa dan melaksanakan salat secara baik dan benar? Sudahkan kita mampu mengejawantahkan makna dan fungsi substantif puasa di tengah derita rakyat miskin? Kita bersama jua yang menjawabnya.

Dimuat di Lampung Post, Selasa, 1 November 2005

1 comment:

masmpep said...

saat mampir ke shopping centre jogja, saya mendapati kumpulan puisi opera kebun lada. bangga saya menjadi orang lampung, he-he-he

salam blogger,
masmpep.wordpress.com